Wednesday, May 2, 2007

Proses Sosial Dalam Praktek Seni di Ruang Publik

Kalau ada elemen yang paling diabaikan dalam infrastruktur seni rupa di Indonesia, khususnya Yogyakarta, maka elemen itu adalah penonton. Di Indonesia, porsi pendidikan seni dalam kurikulum sekolah sangat kecil tidak semua sekolah mempunyai program ekstra kurikuler untuk mengunjungi galeri atau museum. Disamping itu jumlah galeri di Yogyakarta, yang dikatakan sebagai salah satu pusat dan barometer seni di Indonesia, sangat minim. Dengan jumlah ruang yang minim ini bisa dibayangkan sedikitnya penonton yang mampu di jaring oleh setiap ruang seni, terlebih lagi kebanyakan yang datang adalah penonton tetap. Kegiatan artist’s talk baru satu dan dua tahun terakhir ini marak di Yogyakarta, sehingga betapa sedikitnya forum dialog yang dapat mempertemukan antara penonton dan seniman. Media seni seperti jurnal, majalah, jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Singkat kata dunia seni rupa di Yogyakarta selalu mengalami krisis penonton.

Bertolak dari kondisi berkesenian seperti ini, maka para perlu menafsir ulang serta merancang “ruang” untuk seni yang memungkinkan terjadinya relasi yang lebih intens antara pelaku seni dan penontonnya dimana masing-masing pihak bisa berganti peran, artinya seniman bisa hanya menjadi fasilitator dan penonton menjadi pelaku seni. Yang dipilih adalah ruang publik, dalam konteks ini adalah wilayah kepemilikan baik privat maupun lembaga yang bisa diakses oleh publik di kawasan perkotaan sebagai ruang untuk melakukan praktek seni yang berbasis pada “penonton” atau keseharian warga kota itu sendiri. Dikatakan wilayah kepemilikan yang bisa diakses publik, karena sebenarnya tak ada ruang di kawasan perkotaan yang bebas dari satu kepemilikan. Dengan memilih ruang publik maka secara otomatis terjadi interaksi antara habitat sosial yang ada dalam suatu ruang. Interaksi yang cukup intensif ini menjadi semacam grounded research yang kemudian membawa seniman pada praktek-praktek partisipasi observasi, wawancara, lifehistory analysis, metode yang lazim digunakan dalam bidang antropologi. Seniman akan membuat catatan-catatan lapangan (field note) sehingga wacana yang digulirkan berbasis dari penonton itu sendiri, tetapi bukan sekedar mencocok-cocokkan wacana dan dicari kasus-kasus empiriknya.


***

Penerapan metode kualitatif ini memungkinkan sebuah hubungan yang sangat personal antara seniman dengan suatu komunitas di ruang tertentu. Namun ketika memasuki ruang publik maka pengenalan secara general tentang karakter kota mau tidak mau perlu dicermati. Hal ini sangat penting ketika praktek ini baru saja dimulai. Bagaimana anda bisa diterima oleh suatu komunitas di wilayah tertentu? Dan yang paling penting jika kita ingin menjadikan penonton tak sekedar obyek, tetapi juga menjadi subyek/pelaku. Sehingga sebelum memasuki wilayah ruang publik di kawasan perkotaan, perlu dicermati lebih dahulu struktur sosial masyarakat kota secara keseluruhan.

Yogyakarta merupakan kota Kerajaan Mataram yang usianya lebih dari 200 tahun. Struktur kota kerajaan itu sendiri berbentuk lingkaran konsentris, dimana Kraton sebagai pusat yang dikelilingi oleh nagara, nagaragung dan mancanegara. Kraton merupakan tempat tinggal Raja yang juga mempunyai makna spiritual. Struktur sosial masyarakat Yogyakarta tradisional adalah kaum kerajaan yang menempati status sosial tertinggi, kemudian golongan priyayi yang masih keturunan bangsawan dan mereka yang terpelajar serta bekerja sebagai pegawai pemerintahan Belanda. Ketiga adalah wong sudagar yang adalah kaum pedagang serta sering disebut wong loji/gedhongan dan yang terakhir adalah wong cilik atau wong kampung yang tinggal di dalam kampung (areanya tidak berada di tepi jalan raya) dan berprofesi sebagai pekerja kasar di kota.

Struktur kota dan struktur sosial masyarakat semacam ini telah membentuk modus berpikir masyarakatnya yang berorientasi pada pusat. Walaupun kini karakter penduduk Yogyakarta semakin beragam dengan datangnya mahasiswa dari seluruh Indonesia, namun pemusatan pada satu titik masih menjadi pola berpikir secara umum. Dengan berdirinya banyak universitas, maka kota ini pun juga mempunyai daya untuk menyerap beragam pemikiran kontemporer. Hal ini menyebabkan pemikiran kontemporer dan tradisional tetap bisa jalan beriringan, namun tak berarti menghilangkan alam pikiran yang berorientasi ke pusat. Model lingkaran konsentris kini telah bertransformasi dalam berbagai bidang, bahkan pada bidang yang hendak memerdekakan seseorang seperti pendidikan atau kesenian. Tak heran jika model patronase masih cukup kuat sehingga menimbulkan kondisi tarik menarik dari situasi liminal (tidak di sana dan tidak di sini), yaitu situasi berada di antara alam pikiran feodalisme dan modern.

***

Pola pikir masyarakat semacam inilah yang coba kita cermati ketika melakukan praktek seni di ruang publik. Budaya patronase yang cukup kuat dalam masyarakat membuat strategi langkah awal adalah “menunduk” atau menghormati para patron yang hidup dalam suatu wilayah. Hal ini bisa dianalogikan dengan pintu pada arsitektur rumah Jawa yang sangat pendek, sehingga seorang tamu yang mau masuk ke dalam rumah, mau tidak mau harus menunduk. Ini merupakan simbol bahwa anda yang di luar harus menghormati kami yang ada di dalam. Salah satu bentuk cara menghormati adalah menyamakan bahasa komunikasi dulu dengan penonton. Bahasa komunikasi visual yang ditawarkan adalah melukis atau menggambar sebagai bentuk visual yang sudah dikenal dan dapat dikerjakan oleh banyak orang. Tidak akan efektif jika datang ke suatu komunitas dengan membawa berbagai bentuk dan istilah yang tidak mereka kenal. Bukannya mereka tidak bisa mengapresiasinya, tetapi lebih baik menggunakan bentuk yang kelak juga bisa dilakukan oleh sebuah komunitas.

Pemilihan lokasi pun sangat penting. Kami memilih jembatan layang di tengah kota dan tempat-tempat strategis lainnya yang dapat dilewati oleh masyarakat di Yogyakarta. Memilih lokasi di jantung kota menjadi penting mengingat jalan atau ruang publik lainnya masih steril untuk disentuh oleh warga kota kami. Selama 32 tahun, di masa orde baru, jalan raya merupakan pentas peneguhan kekuasaan negara. Artinya seluruh sudut kota telah menjadi ajang propaganda negara. Cengkeraman rasa takut ini masih meliputi warga saat kami mulai membuat karya. Masyarakat misalnya masih bertanya tentang ijin, juga khawatir tentang bentuk gambar yang akan hadir. Seringkali ada pertanyaan “apakah bernuansa politis?”. Intinya masyarakat tidak ingin menanggung resiko jika ada konflik dengan aparat pemerintah. Kebetulan pihak pemerintah kota sangat mendukung praktek seni rupa semacam ini tanpa sedikit pun melakukan sensor. Ketika pemerintah setuju, maka masyarakat pun merasa lebih aman untuk menerima kehadiran seniman di wilayahnya. Ini merupakan kasus betapa masih kuatnya alam pikiran yang memusat.

Kemudian kami memilih tembok sebagai medium gambar, sehingga hasil akhirnya adalah mural. Dalam tata ruang masyarakat Jawa tradisional, khususnya di pedesaan, batas antar rumah biasanya dipisahkan oleh pagar bambu yang tidak tinggi. Situasi di dalam rumah memang sangat mungkin untuk terlihat dari luar. Batas antara luar dan dalam sebenarnya dipisahkan oleh medium pembatas yang tegas, bahkan ada yang tidak memakai pagar, tetapi tanaman. Namun bentuk rumah Jawa tradisional (limasan) yang terbuat dari kayu jati sangat tertutup, ventilasi untuk cahaya sangat minim. Mereka nampak tidak membutuhkan banyak cahaya, karena seluruh kegiatan di lakukan di luar rumah, sementara rumah hanya untuk tidur dan aktivitas yang sangat privat. Dengan bentuk rumah yang cenderung tertutup, maka pagar tidak menjadi terlalu penting. Di daerah perkotaan, bentuk rumah limasan tidak banyak lagi ditemui dan telah berganti menjadi rumah-rumah bertembok. Di masa tertentu, tembok juga dimaknai sebagai penanda status sosial yang lebih tinggi. Mempunyai rumah bertembok menandakan sebuah kesuksesan suatu keluarga, sehingga ada masa dimana orang berlomba-lomba ingin membangun rumah tembok. Kini tembok sudah menjadi barang biasa, dan merupakan pemisah tegas antara luar dan dalam, antara yang di sana dan di sini. Dengan tembok maka ruang sosial yang memungkinkan pertemuan antara tetangga semakin sempit. Dan biasanya pemilik rumah tidak lagi peduli dengan tembok rumahnya yang menghadap ke jalan, seakan tembok itu bukan lagi miliknya.

Memilih tembok sebagai medium seni rupa publik di kota kami menjadi sebuah solusi yang sangat efektif, karena banyak orang tidak merasa bahwa tembok adalah hal yang berharga. Selain itu di sebuah kota yang semakin terasa sumpek dan sempit, maka menggunakan tembok berarti tidak membutuhkan ruang baru atau memakan ruang yang sudah ada. Kemudian praktek menggambar di atas tembok membuka kemungkinan terjadinya kontak antara pemilik rumah dan orang sekitar. Dalam tingkat ini tembok bukan lagi sebagai pemisah, tapi bisa dimaknai sebagai penghubung antara luar dan dalam, antara saya dan mereka. Tembok bisa digunakan sebagai “kertas” bagi warga kota untuk menorehkan narasinya sendiri. Untuk masyarakat yang sedang mengalami krisis di segala bidang, sekaligus krisis identitas, maka dibutuhkan sebuah penanda bahwa dirinya ada. Penanda yang tidak segera lenyap dalam satu atau dua hari, melainkan penanda yang cukup lama berdiri di hadapan mereka sehingga memungkinkan mereka untuk menuai rasa bangga dalam dirinya. Dan itulah tembok yang menjadi “kertas” bagi warga kota kami.

***

Saat itu bulan Agustus 2002. Farhansiki, teman kami dari Jakarta sedang duduk di depan tembok yang berhadapan langsung dengan Galeria Mal. Awalnya ia hanya duduk saja, membedakan situasi di sekitarnya pada siang hari dan malam hari. Ternyata ada perbedaan realitas di kawasan tersebut pada siang dan malam hari. Di siang hari, kawasan itu adalah arena orang lalulalang, warung makanan dan rokok serta tempat nongkrong para pengamen yang mencari rejeki di lampu merah. Sementara di malam hari, kawasan ini berubah total dengan orang-orang yang menyandarkan nasibnya pada dunia totohan/tombokan (taruhan). Di malam hari, ia menjumpai orang-orang yang kalah taruhan dengan segala keluh kesanya di warung-warung makan bertenda. Komunitas malam hari adalah para tukang parker, tukang becak, dan para petaruh. Hal ini sangat kontras ketika persis di depannya berdiri sebuah gedung mal yang begitu megah dan mewah. Ternyata hanya dibutuhkan jarak 50 meter untuk melihat sebuah kesenjangan sosial dan ekonomi.

Dari obrolan dengan orang-orang yang memang mencari penghidupan di sekitar tembok tersebut, akhirnya Farhansiki mulai membuat konsep muralnya. Ia mengambil tema “membeli mimpi”. Artinya di atas meja perjudian itulah sebuah mimpi sedang dipertaruhkan. Kalau kini kalah, maka harapan akan kemenangan masih bisa diraihnya di hari esok. Lalu Ia gambarkan kartu-kartu ceki, serta tulisan-tulisan berbahasa Jawa seperti “Urip Waton Nggelinding” (Hidup itu menggelinding saja) atau “Rezeki niku Gusti Allah Sing Ngatur” (Rejeki itu diatur oleh Allah). Dalam proses pembuatannya, Farhan mempersilahkan orang-orang sekitar tembok untuk ikut terlibat, baik dalam diskusi maupun bantu mengecat atau ada seorang Ibu pemilik warung yang selalu memberikannya minuman. Tidak heran jika ia mengerjakan mural hingga 2 bulan lebih dan telah menggantinya sampai 3 kali.

Lain lagi dengan pengalaman yang dirasakan oleh seniman Nano Warsono. Ia sempat terkejut ketika ada seorang anak kecil berpakaian karate minta ijin untuk berfoto di depan karya muralnya di tembok jembatan layang lempuyangan. Dengan bangganya si anak berpose sementara Ibunya mohon agar hasil foto itu bisa dikirim padanya. “Saya senang dengan gambar ini”, cetus anak itu sederhana. Lokasi mural Nano Warsono terletak persis di depan rel kereta api. Lalu ada sebidang ruang dimana setiap sore para orang tua mengantar anaknya yang masih kecil untuk “menonton” kereta api. Pada siang hari, ruang itu sangat sepi, hanya beberapa orang yang berjualan Koran dan majalah, tetapi menjelang sore hari, ruang tersebut menjadi semacam “tempat bermain” anak-anak. Terinspirasi dari ruang sosial itulah, Nano Warsono membuat visual tentang permainan dalam fantasi anak-anak. Bukankah seharusnya ada sebuah ruang khusus seperti taman bermain yang bisa diakses oleh seluruh warga kota. Ternyata dalam tata ruang kota di Yogyakarta, tidak dipikirkan sebuah taman bermain anak-anak yang gratis, sehingga untuk main prosotan saja, seorang anak harus pergi ke Mc Donald, Kentucky Fried Chicken. Artinya sejak kecil, mereka telah digiring untuk mengkonsumsi makanan yang sebenarnya tidak baik bagi kesehatan.


Namun ada pula sejumlah mural yang tidak disukai oleh orang yang ada di sekitar tembok. Misalnya ketika saya mewawancarai seorang penjahit di dekat salah satu karya mural di jembatan layang lempuyangan, ia mengungkapkan bahwa dirinya sudah sangat bosan melihat karya mural di depannya. “Mbak, kok saya dapat gambar yang jelek, nggak seperti gambar yang lain”, ungkap penjahit itu. “Aduh, coba gambarnya seperti yang di jembatan sebelah sana yah, itu lho yang gambar ikan-ikan. Kan bagus. Tapi saya senang kok, setidaknya sudah mengurangi pengeluaran saya untuk mengecat tembok jembatan yang selalu dicoret-coret grafiti”, ungkap Seorang Ibu yang rumahnya berhadapan dengan karya Arie Dyanto di jembatan layang lempuyangan. Lina, seorang karyawan di counter makanan di Galeri Mal juga mengungkapkan kebosanan: "Ya, bagus sih. Cuma ya sekarang agak kotor gitu. Dulu waktu masih baru,bersih. Sekarang kok mulai agak kotor. Mungkin bagus kalau gambarnya
diganti, biar nggak bosen. Soalnya saya kan tiap hari lihat. Tapi seneng itu lho ada tulisan-tulisannya rejeki niku Gusti Allah sing. Tulisannya saya seneng”. Hal seperti ini memang perlu diperhatikan karena mereka adalah orang-orang yang akan setiap hari berhadapan dengan sebuah karya mural. Respon semacam ini harus dipertimbangkan dengan sungguh, sehingga memunculkan pertanyaan baru tentang berapa lama sebenarnya karya bisa berada di sebuah lokasi.

Kisah-kisah ini memperlihatkan hubungan personal yang cukup intens antara seniman dan habitat yang tinggal di kawasan seputar tembok. Jika ada asumsi yang mengatakan bahwa seni rupa publik seperti mural sifatnya sangat masif sehingga sulit untuk mengenali publiknya, maka asumsi itu telah gugur. Yang kami alami, mural di jalan merupakan bentuk seni rupa yang bisa diakses secara masif, namun proses pembuatannya berbasis pada hubungan personal antara seniman dan penonton atau habitat yang tinggal di kawasan seputar tembok itu sendiri.

***

Selang beberapa bulan setelah kami menyelesaikan program pembuatan mural di tahun 2002, sejumlah kampung dan sekolah kemudian ingin membuat mural. Ada sebuah pemikiran dari beragam elemen masyarakat bahwa mereka pun bisa menggambar seperti yang dikerjakan seniman di jembatan layang lempuyangan. Dalam tataran ini penonton telah beralih menjadi yang ditonton. Program kami selanjutnya tidak lagi membuat mural, tetapi membuat workshop. Ada dua kisah menarik ketika kami membuat workshop di sebuah sekolah di SMU 9 dan kampung Munggur.

Awalnya SMU 9 yang terletak di jl. Sagan hendak menyelenggarakan acara di hari Kartini, dan salah satu acaranya adalah mengadakan lomba mural. Setelah kami ngobrol dengan para murid dan guru, ternyata format lomba sebenarnya kurang disukai oleh mereka, karena sebenarnya yang dicari bukanlah pemenang atau siapa yang terbagus, tetapi lebih pada mengolah gagasan serta mengekspresikannya. Kami pun bersama-sama mendiskusikan perihal teknis dan tema. Akhirnya saat itu disepakati untuk membuat tema tentang perdamaian. Kebetulan saat itu sedang panasnya perang Irak, sehingga banyak sekali visual yang menggambarkan George Bush, Saddam Husein, anti perang, dll. Namun yang menarik, ada sebuah kelas yang menggambarkan temannya yang meninggal karena perkelahian antar gang. Ternyata temannya di bunuh dengan panah saat dirinya baru saja pulang sekolah, peristiwa itu terjadi hanya beberapa ratus meter dari sekolahnya. Kemudian kepala sekolah ternyata protes terhadap kami, karena membiarkan anak didiknya menggambarkan peristiwa pembunuhan itu. Bagi mereka “sekolah kami nanti tidak diminati atau tidak laku”. Kegelisahan kepala sekolah SMU 9 merupakan efek dari banyaknya sekolah-sekolah yang tutup di Indonesia karena kekurangan murid. Kami pun bernegosiasi dengan kepala sekolah SMU 9 bahwa sebuah peristiwa pahit di masa lalu bukan untuk dilupakan, tetapi perlu diingat sebagai sejarah. Reaksi kepala sekolah ini merupakan contoh paling kecil dari penyikapan negara terhadap sejarah kelam bangsa ini. Ketika sejarah selalu berusaha untuk dilupakan tanpa penyelesaian. Selain itu juga muncul ketegangan ketika ada sebuah gambar dengan teks “curang” yang terletak di tembok luar musholah SMU 9. Ternyata sejumlah anak sekolah yang tergabung dalam kelompok Islam di sekolah itu protes terhadap gambar dan teks tersebut. Mereka meminta agar siswa yang menggambar harus menghapusnya. Tak sekedar protes terhadap sebuah gambar di tembok, siswa yang terkenal dengan Islam garis keras ini pun memprotes adanya tarian asereje yang tampil di panggung. Ketegangan antara siswa yang tergabung dalam kelompok Islam dengan siswa sekolah lainnya cukup mengejutkan dan menimbulkan kebingungan dalam bersikap bagi para siswa. Apakah mereka harus mengalah atau bernegosiasi. Namun akhirnya persoalan ini bisa diselesaikan dengan dialog diantara mereka sendiri yang ditengahi oleh guru. Dan kami sendiri pun memperoleh temuan baru bahwa akar sikap fundamentalisme sudah terbentuk di sekolah-sekolah tingkat SMU.

Pengalaman menarik juga terjadi di kawasan kampung Munggur, Yogyakarta. Kampung ini terletak di pusat kota, dekat dengan beragam universitas. Tidak heran jika para penghuni kampung itu kebanyakan para mahasiswa yang kost. Penduduk asli yang menjadi RT/RW dan lurah kemudian berpikir agar para mahasiswa yang datang dari berbagai daerah di Indonesia mempunyai kepedulian terhadap lingkungan tinggalnya. Kampung Munggur ada di dalam dua siatuasi, pertama letaknya kini dekat dengan jalan raya yang sungguh ramai. Kemudian ada lampu merah di ujung jalan yang menyebabkan hadirnya para pendatang baru bukan mahasiswa, yaitu pengamen yang berkostum layaknya komunitas punk. Keberadaan pengamen tersebut pun dianggap sesuatu yang asing serta menimbulkan rasa resah pada warga kampung. Jadi ada tiga elemen, penduduk asli, mahasiswa pendatang, serta pengamen. Pak Heri, seorang guru menggambar sekaligus bekerja di kelurahan menyarankan untuk membuat mural di kampungnya. Bekerjasama dengan Apotik Komik, akhirnya mural itu terselenggara. Bahwa kegiatan ini diprakarsai oleh pihak kelurahan kembali menunjukkan bagaimana budaya patron sangat kuat. Dalam proses pengerjaan mural ini, hampir seluruh warga terlibat, dari anak kecil sampai orang tua, mahasiswa dan juga para pengamen. Menurut pak Heri, proses pengerjaan mural di kampungnya memungkinkan terjadinya komunikasi antara pihak-pihak yang sebelumnya tak pernah bersentuhan. Banyak orang pun tidak lagi “takut” dengan keberadaan pengamen yang dianggap tidak jelas asal usulnya. Yang menarik, warga pun menerima tawaran untuk melukis di TK, dan lain-lain, sehingga timbul kesadaran baru bahwa apa yang mereka perbuat, dalam hal ini mural, selain menerbitkan kebanggaan terhadap kampungnya, ternyata juga mempunyai nilai ekonomis.

***

Melalui berbagai temuan yang kami peroleh dari proses sosial saat menjalankan proyek mural ini, maka ada beberapa hal yang menarik untuk dieksplorasi. Salah satunya adalah taman terbengkalai yang kami temui di dekat SMU 9. Saat ini, kami sedang mengadakan riset untuk proyek “imaging playground” yang mengeksplorasi persoalan taman bermain di kota. Observasi sedang dilakukan untuk mengamati peristiwa keseharian yang terjadi di kawasan taman. Yang kelak observasi ini digunakan sebagai basis workshop sederhana dengan anak-anak yang tinggal di sekitar taman untuk membuat taman bermain yang mereka bayangkan. Hasil workshop itulah yang kemudian akan dijadikan basis untuk desain taman bermain di kawasan tersebut. Masalah menarik lain yang sedang berjalan adalah pengumpulan data sekunder untuk “PRT ArtProject”, sebuah proyek dokumentasi video tentang pembantu rumah tangga. Kini kebutuhan penduduk di kota-kota besar Indonesia terhadap pembantu rumah tangga semakin besar. Pembantu rumah tangga menjadi unsur penting dalam proses kehidupan keluarga masyarakat urban. Namun posisi mereka masih ambigu, karena belum diakui sepenuhnya sebagai sebuah profesi pekerjaan sehingga tidak memperoleh upah minimum. Jam kerja mereka juga tidak jelas, bisa dari pagi hingga malam hari. Ketidak jelasan posisi pembantu rumah tangga berakar pula dari tradisi yang ada dalam masyarakat Jawa. Video dokumentasi ini tidak hanya mempertanyakan hak pembantu rumah tangga, tetapi juga sejarah sosial mereka serta proses sosial yang terjadi antara seorang pembantu rumah tangga dengan keluarga dimana dirinya bekerja.

Beragam metode kualitatif yang lazim digunakan oleh bidang antropologi dan disertai dengan workshop merupakan alat yang sangat menarik untuk diterapkan dalam praktek seni pada ruang dan masyarakat perkotaan. Sebuah pendekatan yang mampu membuka ruang dan peristiwa yang memungkinkan terjadinya proses sosial untuk mengenali diri sendiri dan lingkungan sosialnya. (Ade Tanesia) – Tulisan ini diterbitkan dalam jurnal Karbon Ruang Rupa

Opera Perjalanan Memperjuangkan Sampah

Kini gaya hidup masyarakat tak bisa lagi dipisahkan dengan praktek konsumsi beragam produk. Yang menjadi masalah adalah ketika produk itu habis, kemana sampahnya yang kebanyakan berbentuk kemasan plastik itu akan pergi? Lalu kita hanya bisa bingung ketika banjir, longsor, ketiadaan air bersih menjadi semakin dekat dalam ruang lingkup kehidupan kita.

Tidak demikian halnya bagi seorang Ann Wizer. Seniman asal Amerika yang sangat tertarik pada sejarah sosial benda-benda ini sadar sekali bahwa gaya hidup manusia modern sangat rawan petaka. Tercatat bahwa satu ton produk akan menghasilkan 30 ton sampah. Setiap tahun 80.000 ton kemasan plastik diproduksi di Indonesia. Ia selalu bertanya kemana perginya tumpukan sampah plastik yang tak bisa hancur melalui proses alam? Dan siapa yang harus bertanggung jawab terhadap sampah tersebut?

Pertama Ann Wizer berpikir bahwa ia harus mengambil perannya dengan menjalankan XS Project yang dimulainya pada tahun 2002. Dengan uangnya sendiri, ia membeli sampah kemasan plastik dari pemulung di daerah Terogong dan kini di Cirendeu, Jakarta. Bersama sejumlah yayasan, ia memproses kemasan plastik itu menjadi benda cantik berupa map, folder tas, dompet, dan lain-lain. Saat ini setiap bulan XS Project secara rutin membeli sekitar 400 kg sampah kemasan plastik pada pemulung dengan harga Rp. 6000,- per kilogram. Lalu ada 200 pekerja yang memproduksi benda-benda fungsional tersebut. Mereka dibayar secara langsung dengan upah yang cukup tinggi. XS Project telah menjalankan perannya untuk mengurangi kerusakan lingkungan, memberikan pendidikan lingkungan, menciptakan lapangan kerja baru, serta menggerakkan seni sebagai sumber inspirasi penciptaan produk. Lalu Ann Wizer berpikir bahwa proyeknya bisa berkembang lebih baik jika dijalankan bersama pihak-pihak lain, salah satunya adalah lembaga donor dan perusahaan. Dengan dukungan mereka, maka jumlah sampah yang dibeli bisa lebih besar, serta semakin banyak orang yang dapat memperoleh pekerjaan. Lalu apa tanggapan para perusahaan yang memproduksi limbah terhadap proyek ini?

”Soapopera”, pameran yang kini digelar Ann Wizer di Rumah Seni Cemeti, merupakan jawaban dari pertanyaan di atas. Jawaban diibaratkan Ann Wizer seperti opera sabun yang membeberkan kisah penuh intrik, manipulasi, pengkhianatan dan cinta. Saat kita memasuki ruang depan Rumah Seni Cemeti, maka kita dapat melihat proses kerja XS Project serta menikmati hasil produknya yang ditata menjadi instalasi yang menarik. Masuk ke ruang utama galeri, maka di sanalah kita mulai meraba kegetiran yang dirasakan Ann Wizer. Pahitnya saat beragam korporasi telah menolak dan melecehkan ajakannya untuk ikut bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka produksi sendiri. Ia telah mengadakan pertemuan dengan 50 lembaga donor dan perusahaan untuk menawarkan kerjasama, namun tak satu pun yang menanggapinya dengan positif. Ann Wizer pernah presentasi dihadapan Asosiasi Pengusaha Plastik Indonesia, tetapi apa tanggapannya? Mereka menilai presentasinya sangat menarik, tapi tak mungkin dilakukan dan dianggapnya ide gila. Ia pun pernah melayangkan proposal pada perusahaan yang memproduksi Capri-Sonne di Jerman. Pertama perusahaan itu justru mengancam XS Project dengan tuntutan telah mengambil keuntungan dari merk mereka.

Akhirnya mereka memang memberikan izin penggunaaan merk untuk kepentingan pendidikan. Lebih jauh lagi mereka mau membantu, tetapi dengan cara menawarkan pembuatan 20.000 tas dari kemasan baru yang dikirim dari Jerman. Tentu saja Ann Wizer menolak keras, karena pada dasarnya fokus XS proyek bukan untuk memproduksi tas. Ada pula perusahaan yang langsung menemui para pekerjanya dan memesan tas yang persis dengan produk XS Project. Sebuah perusahaan produk perawatan pribadi dan rumah tangga terbesar di Indonesia justru sangat percaya diri dengan mengatakan bahwa taksiran sampah produknya tidak akan berdampak besar pada kerusakan lingkungan. Dengan sombongnya mereka mengatakan bahwa kualitas sampahnya lebih baik dari kompetitor sehingga mereka tidak ingin sampah yang lebih berkualitas disandingkan dengan sampah tak bermutu. Bayangkan ada hirarki untuk sampah? Bukankah sampah adalah tetap sampah?

Deretan pengalaman pahit inilah yang kemudian diekspresikan oleh Ann Wizer melalui karyanya dengan cara penyampaian yang penuh humor dan ironis. Ia membuat 5 instalasi sofa yang bentuknya diadaptasi dari desain-desain kontemporer yang disukai masyarakat kelas atas. Sofa ini dikerjakan oleh para pengrajin dari Tangerang dengan menggunakan guntingan sampah kemasan plastik sehingga memunculkan efek warna yang sangat menarik. Pada karya instalasi sofa berjudul ”Riverbed”(2002) yang bentuknya menyerupai desain sofa Itali, di bagian belakangnya ia letakkan foto yang menggambarkan kubangan sampah di daerah Cireundeu, Jakarta. Instalasi ini sungguh ironis, karena dibayangkan para orang kaya akan duduk santai di sofanya yang terbuat dari sampah buatannya sendiri. Karya instalasi berjudul ”Executive Decision” (2004) juga sangat menarik. Ann Wizer membuat sofa yang bentuknya memanjang ke depan dan di bawahnya diletakkan karpet berupa foto bergambar kacamata. Ia ingin mengatakan bahwa para eksekutif perlu memakai kacamata agar dapat lebih jelas melihat persoalan kerusakan lingkungan akibat limbahnya. Pada karya berjudul ”flotsam&Jetsam” (2004), Ann Wizer membuat kursi untuk presiden direktur yang sangat tinggi, dan di bawahnya tergeletak foto para pemulung yang sedang mengambil tumpukan sampah. Menurutnya kursi itu ia buat tinggi agar para pengambil keputusan dapat melihat ke bawah. ”Intinya melalui soapopera, saya ingin mengembalikan sampah pada produsennya yaitu para petinggi perusahaan dalam bentuk beragam benda yang mereka pakai dalam kehidupannya, seperti sofa, lukisan indah yang saya ganti dengan foto-foto sampah, karpet bulu yang diganti dengan material sampah”, ungkap Ann Wizer yang belajar patung di California College of Art and Crafts di Oakland, Amerika.

Sikap berkesenian Ann Wizer memang agak berbeda dengan seniman pada umumnya. Prakteknya bisa dikategorikan dalam genre art activism, sebuah gagasan yang percaya bahwa seni bisa menjadi solusi bagi suatu persoalan masyarakat. Praktek berkesenian ini sebenarnya telah dilakukan Ann Wizer sejak 14 tahun silam saat dirinya berdomisili di Jepang dan Philipina. Di Jepang ia kerap membuat karya dari bahan alam, seperti ranting atau daun yang berjatuhan. Di Philipina, ia putuskan untuk menggunakan materi sampah, karena terdapat kontradiksi antara realitas di studionya dengan realitas kehidupan di sekitar tempat tinggalnya. Begitu pula di Jakarta, ia tak bisa tinggal diam saat ia harus menyaksikan kehidupan pemulung dari lantai 5 hotel yang ditinggalinya. Tentunya dibanding berkarya secara individu di dalam studio, tantangan genre art activism lebih berat. Apakah Ann Wizer akan berhenti?

Hingga saat ini ia disibukkan dengan program utama yayasan XS Project, yaitu XS100 yang memberikan pendidikan lingkungan ke sekolah-sekolah di Indonesia, Green Spot yaitu penyediaan sarana pembuangan sampah di sekolah-sekolah, toko dan pusat kegiatan masyarakat lainnya, serta program Operasi Plastik yaitu produksi tas serba guna berskala besar yang bertujuan untuk menghubungkan konsumen dengan produsen melalui produk yang peduli pada lingkungan. Bahkan kini program yang sama akan dilakukan di Jogjakarta. Yah, Ann Wizer tidak akan pernah berhenti.Opera ini masih berlangsung, entah sampai berapa episode. (Ade Tanesia, pemerhati seni rupa)