Kini gaya hidup masyarakat tak bisa lagi dipisahkan dengan praktek konsumsi beragam produk. Yang menjadi masalah adalah ketika produk itu habis, kemana sampahnya yang kebanyakan berbentuk kemasan plastik itu akan pergi? Lalu kita hanya bisa bingung ketika banjir, longsor, ketiadaan air bersih menjadi semakin dekat dalam ruang lingkup kehidupan kita.
Tidak demikian halnya bagi seorang Ann Wizer. Seniman asal Amerika yang sangat tertarik pada sejarah sosial benda-benda ini sadar sekali bahwa gaya hidup manusia modern sangat rawan petaka. Tercatat bahwa satu ton produk akan menghasilkan 30 ton sampah. Setiap tahun 80.000 ton kemasan plastik diproduksi di Indonesia. Ia selalu bertanya kemana perginya tumpukan sampah plastik yang tak bisa hancur melalui proses alam? Dan siapa yang harus bertanggung jawab terhadap sampah tersebut?
Pertama Ann Wizer berpikir bahwa ia harus mengambil perannya dengan menjalankan XS Project yang dimulainya pada tahun 2002. Dengan uangnya sendiri, ia membeli sampah kemasan plastik dari pemulung di daerah Terogong dan kini di Cirendeu, Jakarta. Bersama sejumlah yayasan, ia memproses kemasan plastik itu menjadi benda cantik berupa map, folder tas, dompet, dan lain-lain. Saat ini setiap bulan XS Project secara rutin membeli sekitar 400 kg sampah kemasan plastik pada pemulung dengan harga Rp. 6000,- per kilogram. Lalu ada 200 pekerja yang memproduksi benda-benda fungsional tersebut. Mereka dibayar secara langsung dengan upah yang cukup tinggi. XS Project telah menjalankan perannya untuk mengurangi kerusakan lingkungan, memberikan pendidikan lingkungan, menciptakan lapangan kerja baru, serta menggerakkan seni sebagai sumber inspirasi penciptaan produk. Lalu Ann Wizer berpikir bahwa proyeknya bisa berkembang lebih baik jika dijalankan bersama pihak-pihak lain, salah satunya adalah lembaga donor dan perusahaan. Dengan dukungan mereka, maka jumlah sampah yang dibeli bisa lebih besar, serta semakin banyak orang yang dapat memperoleh pekerjaan. Lalu apa tanggapan para perusahaan yang memproduksi limbah terhadap proyek ini?
”Soapopera”, pameran yang kini digelar Ann Wizer di Rumah Seni Cemeti, merupakan jawaban dari pertanyaan di atas. Jawaban diibaratkan Ann Wizer seperti opera sabun yang membeberkan kisah penuh intrik, manipulasi, pengkhianatan dan cinta. Saat kita memasuki ruang depan Rumah Seni Cemeti, maka kita dapat melihat proses kerja XS Project serta menikmati hasil produknya yang ditata menjadi instalasi yang menarik. Masuk ke ruang utama galeri, maka di sanalah kita mulai meraba kegetiran yang dirasakan Ann Wizer. Pahitnya saat beragam korporasi telah menolak dan melecehkan ajakannya untuk ikut bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka produksi sendiri. Ia telah mengadakan pertemuan dengan 50 lembaga donor dan perusahaan untuk menawarkan kerjasama, namun tak satu pun yang menanggapinya dengan positif. Ann Wizer pernah presentasi dihadapan Asosiasi Pengusaha Plastik Indonesia, tetapi apa tanggapannya? Mereka menilai presentasinya sangat menarik, tapi tak mungkin dilakukan dan dianggapnya ide gila. Ia pun pernah melayangkan proposal pada perusahaan yang memproduksi Capri-Sonne di Jerman. Pertama perusahaan itu justru mengancam XS Project dengan tuntutan telah mengambil keuntungan dari merk mereka.
Akhirnya mereka memang memberikan izin penggunaaan merk untuk kepentingan pendidikan. Lebih jauh lagi mereka mau membantu, tetapi dengan cara menawarkan pembuatan 20.000 tas dari kemasan baru yang dikirim dari Jerman. Tentu saja Ann Wizer menolak keras, karena pada dasarnya fokus XS proyek bukan untuk memproduksi tas. Ada pula perusahaan yang langsung menemui para pekerjanya dan memesan tas yang persis dengan produk XS Project. Sebuah perusahaan produk perawatan pribadi dan rumah tangga terbesar di Indonesia justru sangat percaya diri dengan mengatakan bahwa taksiran sampah produknya tidak akan berdampak besar pada kerusakan lingkungan. Dengan sombongnya mereka mengatakan bahwa kualitas sampahnya lebih baik dari kompetitor sehingga mereka tidak ingin sampah yang lebih berkualitas disandingkan dengan sampah tak bermutu. Bayangkan ada hirarki untuk sampah? Bukankah sampah adalah tetap sampah?
Deretan pengalaman pahit inilah yang kemudian diekspresikan oleh Ann Wizer melalui karyanya dengan cara penyampaian yang penuh humor dan ironis. Ia membuat 5 instalasi sofa yang bentuknya diadaptasi dari desain-desain kontemporer yang disukai masyarakat kelas atas. Sofa ini dikerjakan oleh para pengrajin dari Tangerang dengan menggunakan guntingan sampah kemasan plastik sehingga memunculkan efek warna yang sangat menarik. Pada karya instalasi sofa berjudul ”Riverbed”(2002) yang bentuknya menyerupai desain sofa Itali, di bagian belakangnya ia letakkan foto yang menggambarkan kubangan sampah di daerah Cireundeu, Jakarta. Instalasi ini sungguh ironis, karena dibayangkan para orang kaya akan duduk santai di sofanya yang terbuat dari sampah buatannya sendiri. Karya instalasi berjudul ”Executive Decision” (2004) juga sangat menarik. Ann Wizer membuat sofa yang bentuknya memanjang ke depan dan di bawahnya diletakkan karpet berupa foto bergambar kacamata. Ia ingin mengatakan bahwa para eksekutif perlu memakai kacamata agar dapat lebih jelas melihat persoalan kerusakan lingkungan akibat limbahnya. Pada karya berjudul ”flotsam&Jetsam” (2004), Ann Wizer membuat kursi untuk presiden direktur yang sangat tinggi, dan di bawahnya tergeletak foto para pemulung yang sedang mengambil tumpukan sampah. Menurutnya kursi itu ia buat tinggi agar para pengambil keputusan dapat melihat ke bawah. ”Intinya melalui soapopera, saya ingin mengembalikan sampah pada produsennya yaitu para petinggi perusahaan dalam bentuk beragam benda yang mereka pakai dalam kehidupannya, seperti sofa, lukisan indah yang saya ganti dengan foto-foto sampah, karpet bulu yang diganti dengan material sampah”, ungkap Ann Wizer yang belajar patung di California College of Art and Crafts di Oakland, Amerika.
Sikap berkesenian Ann Wizer memang agak berbeda dengan seniman pada umumnya. Prakteknya bisa dikategorikan dalam genre art activism, sebuah gagasan yang percaya bahwa seni bisa menjadi solusi bagi suatu persoalan masyarakat. Praktek berkesenian ini sebenarnya telah dilakukan Ann Wizer sejak 14 tahun silam saat dirinya berdomisili di Jepang dan Philipina. Di Jepang ia kerap membuat karya dari bahan alam, seperti ranting atau daun yang berjatuhan. Di Philipina, ia putuskan untuk menggunakan materi sampah, karena terdapat kontradiksi antara realitas di studionya dengan realitas kehidupan di sekitar tempat tinggalnya. Begitu pula di Jakarta, ia tak bisa tinggal diam saat ia harus menyaksikan kehidupan pemulung dari lantai 5 hotel yang ditinggalinya. Tentunya dibanding berkarya secara individu di dalam studio, tantangan genre art activism lebih berat. Apakah Ann Wizer akan berhenti?
Hingga saat ini ia disibukkan dengan program utama yayasan XS Project, yaitu XS100 yang memberikan pendidikan lingkungan ke sekolah-sekolah di Indonesia, Green Spot yaitu penyediaan sarana pembuangan sampah di sekolah-sekolah, toko dan pusat kegiatan masyarakat lainnya, serta program Operasi Plastik yaitu produksi tas serba guna berskala besar yang bertujuan untuk menghubungkan konsumen dengan produsen melalui produk yang peduli pada lingkungan. Bahkan kini program yang sama akan dilakukan di Jogjakarta. Yah, Ann Wizer tidak akan pernah berhenti.Opera ini masih berlangsung, entah sampai berapa episode. (Ade Tanesia, pemerhati seni rupa)
Tidak demikian halnya bagi seorang Ann Wizer. Seniman asal Amerika yang sangat tertarik pada sejarah sosial benda-benda ini sadar sekali bahwa gaya hidup manusia modern sangat rawan petaka. Tercatat bahwa satu ton produk akan menghasilkan 30 ton sampah. Setiap tahun 80.000 ton kemasan plastik diproduksi di Indonesia. Ia selalu bertanya kemana perginya tumpukan sampah plastik yang tak bisa hancur melalui proses alam? Dan siapa yang harus bertanggung jawab terhadap sampah tersebut?
Pertama Ann Wizer berpikir bahwa ia harus mengambil perannya dengan menjalankan XS Project yang dimulainya pada tahun 2002. Dengan uangnya sendiri, ia membeli sampah kemasan plastik dari pemulung di daerah Terogong dan kini di Cirendeu, Jakarta. Bersama sejumlah yayasan, ia memproses kemasan plastik itu menjadi benda cantik berupa map, folder tas, dompet, dan lain-lain. Saat ini setiap bulan XS Project secara rutin membeli sekitar 400 kg sampah kemasan plastik pada pemulung dengan harga Rp. 6000,- per kilogram. Lalu ada 200 pekerja yang memproduksi benda-benda fungsional tersebut. Mereka dibayar secara langsung dengan upah yang cukup tinggi. XS Project telah menjalankan perannya untuk mengurangi kerusakan lingkungan, memberikan pendidikan lingkungan, menciptakan lapangan kerja baru, serta menggerakkan seni sebagai sumber inspirasi penciptaan produk. Lalu Ann Wizer berpikir bahwa proyeknya bisa berkembang lebih baik jika dijalankan bersama pihak-pihak lain, salah satunya adalah lembaga donor dan perusahaan. Dengan dukungan mereka, maka jumlah sampah yang dibeli bisa lebih besar, serta semakin banyak orang yang dapat memperoleh pekerjaan. Lalu apa tanggapan para perusahaan yang memproduksi limbah terhadap proyek ini?
”Soapopera”, pameran yang kini digelar Ann Wizer di Rumah Seni Cemeti, merupakan jawaban dari pertanyaan di atas. Jawaban diibaratkan Ann Wizer seperti opera sabun yang membeberkan kisah penuh intrik, manipulasi, pengkhianatan dan cinta. Saat kita memasuki ruang depan Rumah Seni Cemeti, maka kita dapat melihat proses kerja XS Project serta menikmati hasil produknya yang ditata menjadi instalasi yang menarik. Masuk ke ruang utama galeri, maka di sanalah kita mulai meraba kegetiran yang dirasakan Ann Wizer. Pahitnya saat beragam korporasi telah menolak dan melecehkan ajakannya untuk ikut bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka produksi sendiri. Ia telah mengadakan pertemuan dengan 50 lembaga donor dan perusahaan untuk menawarkan kerjasama, namun tak satu pun yang menanggapinya dengan positif. Ann Wizer pernah presentasi dihadapan Asosiasi Pengusaha Plastik Indonesia, tetapi apa tanggapannya? Mereka menilai presentasinya sangat menarik, tapi tak mungkin dilakukan dan dianggapnya ide gila. Ia pun pernah melayangkan proposal pada perusahaan yang memproduksi Capri-Sonne di Jerman. Pertama perusahaan itu justru mengancam XS Project dengan tuntutan telah mengambil keuntungan dari merk mereka.
Akhirnya mereka memang memberikan izin penggunaaan merk untuk kepentingan pendidikan. Lebih jauh lagi mereka mau membantu, tetapi dengan cara menawarkan pembuatan 20.000 tas dari kemasan baru yang dikirim dari Jerman. Tentu saja Ann Wizer menolak keras, karena pada dasarnya fokus XS proyek bukan untuk memproduksi tas. Ada pula perusahaan yang langsung menemui para pekerjanya dan memesan tas yang persis dengan produk XS Project. Sebuah perusahaan produk perawatan pribadi dan rumah tangga terbesar di Indonesia justru sangat percaya diri dengan mengatakan bahwa taksiran sampah produknya tidak akan berdampak besar pada kerusakan lingkungan. Dengan sombongnya mereka mengatakan bahwa kualitas sampahnya lebih baik dari kompetitor sehingga mereka tidak ingin sampah yang lebih berkualitas disandingkan dengan sampah tak bermutu. Bayangkan ada hirarki untuk sampah? Bukankah sampah adalah tetap sampah?
Deretan pengalaman pahit inilah yang kemudian diekspresikan oleh Ann Wizer melalui karyanya dengan cara penyampaian yang penuh humor dan ironis. Ia membuat 5 instalasi sofa yang bentuknya diadaptasi dari desain-desain kontemporer yang disukai masyarakat kelas atas. Sofa ini dikerjakan oleh para pengrajin dari Tangerang dengan menggunakan guntingan sampah kemasan plastik sehingga memunculkan efek warna yang sangat menarik. Pada karya instalasi sofa berjudul ”Riverbed”(2002) yang bentuknya menyerupai desain sofa Itali, di bagian belakangnya ia letakkan foto yang menggambarkan kubangan sampah di daerah Cireundeu, Jakarta. Instalasi ini sungguh ironis, karena dibayangkan para orang kaya akan duduk santai di sofanya yang terbuat dari sampah buatannya sendiri. Karya instalasi berjudul ”Executive Decision” (2004) juga sangat menarik. Ann Wizer membuat sofa yang bentuknya memanjang ke depan dan di bawahnya diletakkan karpet berupa foto bergambar kacamata. Ia ingin mengatakan bahwa para eksekutif perlu memakai kacamata agar dapat lebih jelas melihat persoalan kerusakan lingkungan akibat limbahnya. Pada karya berjudul ”flotsam&Jetsam” (2004), Ann Wizer membuat kursi untuk presiden direktur yang sangat tinggi, dan di bawahnya tergeletak foto para pemulung yang sedang mengambil tumpukan sampah. Menurutnya kursi itu ia buat tinggi agar para pengambil keputusan dapat melihat ke bawah. ”Intinya melalui soapopera, saya ingin mengembalikan sampah pada produsennya yaitu para petinggi perusahaan dalam bentuk beragam benda yang mereka pakai dalam kehidupannya, seperti sofa, lukisan indah yang saya ganti dengan foto-foto sampah, karpet bulu yang diganti dengan material sampah”, ungkap Ann Wizer yang belajar patung di California College of Art and Crafts di Oakland, Amerika.
Sikap berkesenian Ann Wizer memang agak berbeda dengan seniman pada umumnya. Prakteknya bisa dikategorikan dalam genre art activism, sebuah gagasan yang percaya bahwa seni bisa menjadi solusi bagi suatu persoalan masyarakat. Praktek berkesenian ini sebenarnya telah dilakukan Ann Wizer sejak 14 tahun silam saat dirinya berdomisili di Jepang dan Philipina. Di Jepang ia kerap membuat karya dari bahan alam, seperti ranting atau daun yang berjatuhan. Di Philipina, ia putuskan untuk menggunakan materi sampah, karena terdapat kontradiksi antara realitas di studionya dengan realitas kehidupan di sekitar tempat tinggalnya. Begitu pula di Jakarta, ia tak bisa tinggal diam saat ia harus menyaksikan kehidupan pemulung dari lantai 5 hotel yang ditinggalinya. Tentunya dibanding berkarya secara individu di dalam studio, tantangan genre art activism lebih berat. Apakah Ann Wizer akan berhenti?
Hingga saat ini ia disibukkan dengan program utama yayasan XS Project, yaitu XS100 yang memberikan pendidikan lingkungan ke sekolah-sekolah di Indonesia, Green Spot yaitu penyediaan sarana pembuangan sampah di sekolah-sekolah, toko dan pusat kegiatan masyarakat lainnya, serta program Operasi Plastik yaitu produksi tas serba guna berskala besar yang bertujuan untuk menghubungkan konsumen dengan produsen melalui produk yang peduli pada lingkungan. Bahkan kini program yang sama akan dilakukan di Jogjakarta. Yah, Ann Wizer tidak akan pernah berhenti.Opera ini masih berlangsung, entah sampai berapa episode. (Ade Tanesia, pemerhati seni rupa)
No comments:
Post a Comment